Pages

Sunday, February 10, 2019

Ada Apa di Melaka ?

Auouoououououuou, di postingan yang sebelumnya saya sudah membahas mengenai cara menuju ke Melaka dari Kuala Lumpur dan sebaliknya beserta cara mengeksplor Melaka. Kali ini saya mau membahas mengenai tempat wisata beserta hal seru yang ada di Melaka. Apa saja itu ? Cekidot......

1. Stadthuys / Bangunan Merah

Jadi di sinilah titik awal yang paling pas untuk mengeksplor Melaka. Dari Melaka Sentral ke tempat ini kita bisa naik bus Panorama nomor 17. Ciri khas dari tempat ini adalah deretan bangunan – bangunan yang berwarna merah (seperti hati saya yang lagi berbunga – bunga, #halaaaah....).

Bangunan ini dulunya dipakai sebagai tempat pusat administrasi negara Gubernur Belanda yang dibangun sejak tahun 1950. Di sini juga terdapat menara jam Tan Beng Swee yang merupakan ikon dari Melaka. Letaknya di depan Museum Sejarah dan Etnografi Melaka dan bersebelahan dengan Victoria Water Fountain.

Dari Stadthuys kita bisa mengeksplor tempat wisata yang lainnya dengan jalan kekong. Hahhh ? Jalan kekong ? Capcay dong. Jangan khawatir. Semua tempat wisata di Melaka berdekatan kok jaraknya. Dijamin ga bakal capcay atau bosanova (baca : capek atau bosen) karna banyak banget tempat – tempat yang menarik di Melaka.

2. Christ Church Melaka

Ini nih tempat favorit saya. Letaknya bersebelahan dengan Stadthuys. Gereja ini dibangun oleh Belanda sejak tahun 1753. Jadi awalnya gereja ini digunakan oleh jemaat Kristen Protestan di Belanda, tapi kemudian semua berubah saat negara api menyerang. Gak ding, jadi setelah kolonial Inggris datang ke sini gereja ini diambil alih dan berubah menjadi gereja anglikan. Lumayan lah bisa istirahat di tempat ini sambil berdoa, minta ampun sama Tuhan atas dosa – dosa yang bejibun kayak cucian yang lagi numpuk di rumah.

3. St Paul Hill

Sumpah yee, tempat ini keren banget. Jadi di masa penjajahan Belanda dan Portugis, St Paul Hill ini digunakan sebagai pusat pemerintahan. Tapi, sayang seribu sayang bangunan yang dipake untuk pusat pemerintahan ini akhirnya hancur berkepang – kepang eh berkeping – berkeping setelah serangan yang dilakukan Inggris (duh, Inggris lagi Inggris lagi. Tega banget ye ?). Di sini juga terdapat Patung St Francis Xavier dan beberapa makam – makam Belanda.

4. A Famosa

Ini adalah sebuah benteng yang merupakan peninggalan dari Portugis. Ayo tebak benteng ini ada sejak tahun berapa ? Ternyata gaes, benteng ini berdiri sejak tahun 1511 (buset, saya aja lahirnya tahun 2017, wekekekeek). Dan fakta mengejutkan yang lain, A Famosa ini adalah bangunan paling tua di Asia Tenggara. Makanya jangan heran kalo bentuknya udah ga utuh lagi (tapi hati saya masih tetap utuh kok buat kamu, #abaikan....)

5. Dataran Pahlawan Melaka Megamall

Ingin shopping – shopping manjah ? Mampirlah ke Mall Dataran Pahlawan. Jangan tanya ada apa saja di sini karena saya cuma numpang pipis sama ngadem doang. Saya mah gitu orangnya.

6. Taman Merdeka

Nah, kalo udah capek keliling – keliling bisa nih istirahat dimari. Tempatnya sejuk, bisa cuci mata. Kalo beruntung ya bisa kenalan sama cewek cantik. Tapi sialnya pas saya ke sini kok nemunya malah nenek – nenek sama pasangan suami istri lansia. Duuuh, nasiiib nasiiiib.....

7. Sungai Melaka

Melaka juga punya sungai yang cuantiiik bingiit. Ingin menyusuri sungai ini ? Kita bisa naik Melaka River Cruise dengan harga tiket 30 RM untuk orang dewasa dan 15 RM untuk anak – anak. Lama perjalanan sekitar 45 menit. Saya sih ga naik ini, maklum, kantong udah kering, huhuhu.

8. Maritime Museum Melaka

Tempat ini juga sering disebut Muzium Samudra. Jadi museum ini merupakan replika dari kapal perang Portugis yang dikabarkan tenggelam di kawasan pantai Melaka. Berdasarkan info yang saya ubek – ubek dari opa google sih replika ini memiliki tinggi sekitar 34 meter di atas tanah dan lebarnya 8 meter (udah ga usah dibayangin, yang jelas gede banget euyy). Untuk masuk ke sini harus bayar ya pemirsah. Saya sendiri cuma bisa foto – foto dari luar karena ga ada duit (mewek dulu di pojokan).

9. Jonker Street

Kalau di Bangkok ada Khaosan Road, di Siem Reap ada Pub Street, di Kuala Lumpur ada Jalan Bukit bintang. Nah kalau di Melaka ada Jonker Street, sebuah jalan atau kawasan yang ramai oleh traveller. Kawasan ini sangat kental dengan budaya Cinanya. Jangan khawatir deh kelaperan karena di sini banyak makanan lokal yang harganya murce abiiiiis. Souvenir juga dijual di sini. Kalau saya sih di sini cuma beli es milo doang yang harganya 3 RM (cukup membuat perut saya terisi sampai malam). Ga beli makan ? Kagak, lagi diet, wekekekekek (padahal mah udah kurus kerempeng kayak tulang belulang gini).

10. Menara Taming Sari

Ini merupakan menara setinggi 110 meter (yang jelas lebih tinggi dari saya). Menara ini dapat berputar 360 derajat sehingga kita bisa melihat Melaka dari ketinggian secara keseluruhan. Menara ini mampu memuat 66 orang sekaligus loh, jadi kalau mau ngajakin warga satu kompleks naik ini juga bisa. Harga tiketnya untuk dewasa 20 RM dan anak – anak 10 RM (kalau ga salah ye ?)

11. Naik Becak Hias

Capek jalan kekong terus ? Bisa coba naik becak hias. Becak ini unyu –unyu banget (kayak saya) karena dihiasi ornamen kayak hello kitty, doraemon, pokemon, dan lain – lain. Siap – siap deh jadi artis kalo naik becak ini karena orang – orang bakal memandang ke kita dengan antusias (atau malah ngetawain ?). Kadang becak ini juga ada musiknya dan menggelegar kayak odong – odong gitu deh. Lagunya bisa macem – macem bisa lagu India acha acha nehi nehi, mandarin, sampai lagu dangdut juga ada (digoyang maaak).

Sebenarnya masih banyak lagi sih tempat seru dan hal menarik di Melaka. Ada museum kereta api, Kuil Cheng Hoon Teng, Masjid Selat Melaka, Masjid Kampung Kling, duuh apa lagi ya ? Buanyaaak dah pokoknya yang kalo disebutin dan dibahas satu – satu sampai Jumat Kliwon yang akan datang pun ga bakal kelar. Yang jelas bagi saya Melaka itu ngangenin banget. Jadi tunggu apa lagi. Hayuk ke Melaka....

Jekardah, Cinta Pertama

Auouououououo, mari kita berbicara tentang cinta pertama. Sewaktu saya kecil entah kenapa saya begitu tergila – gila dengan kota Jakarta. Yaps, ibukota negara kita yang tercinta ini selalu terngiang – ngiang di otak dan hati sanubari saya, #halah. Bagi saya yang orang kampung dan “kampungan” ini, Jakarta atau yang sering disebut Jekardah ini bagaikan magnet yang begitu besar.

Ketika melihat gedung – gedung pencakar langit kota Jakarta yang ada di tipi – tipi saya selalu ngiler. Duuuuh, pengen rasanya bisa melihat secara langsung dan manjat ke gedungnya (sekalian saya cakar – cakar deh kayak kucing). Saya selalu mengutarakan keinginan dan mimpi saya ini ke orang tua....

Saya : “Ma, pengen deh bisa ke Jakarta.” (menunjuk ke gambar di tipi)

Mama : “Duuuh, ngapain coba tinggal di Jakarta ? Macet. Banjir lagi.” (sambil kibas poni)

Saya : “Ya gapapa. Yang penting kan Jakarta itu keren. Banyak gedung tingginya.”

Mama : “Makan dah tuh gedung tinggi sampe kenyang.”

Saya : “Pa, ke Jakarta yuk.” (meminta pembelaan)

Papa : “Iya, tapi kamu pergi ke sana sendiri aja ya ? Naik odong - odong.”

Saya : “Zzzzzzzzzz.....”

Walaupun banyak yang mengatakan Jakarta itu sering kena banjir, banyak kriminalitas, macet cet cet, lebih kejam dari ibu tiri (padahal yang ngomong itu juga nggak punya ibu tiri), saya tetap tidak peduli. Ya namanya juga cinta fitri eh cinta monyet kan yee ? Mau orang ngomong apapun nggak akan merubah rasa cinta saya, #janganmuntahyee......

Aitttts, tapi yang namanya hidup ye, kadang kenyataan memang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Wong saya lahir dari keluarga tidak mampu, SPP aja udah ga dibayar selama tiga tahun, rumah juga masih ngekos itupun satu kamar kecil diisi plek ketuplek sama 5 orang (saya, papa, mama, adik, dan kakak saya) berjejer kayak ikan pindang. Mau jalan – jalan ke Jakarta ? Duuh, mending duitnya pake beli kerupuk aja deh.

Hingga suatu waktu orang tua saya sudah tidak mampu membiayai SPP dan hidup saya lagi. Akhirnya saya dititipkan di sebuah panti asuhan di Negara, Bali saat saya masih SD (sedangkan orang tua saya tinggal di Denpasar, 120 an km dari panti asuhan tempat saya tinggal). Setiap liburan biasanya saya pulang sendiri naik bus ke rumah atau nebeng sama truk yang kebetulan lewat.

Suatu waktu ketika saya baru saja habis liburan dari Denpasar dan sampai di panti asuhan saya dikejutkan dengan sebuah kabar. Ternyata waktu saya liburan ke Denpasar sempat ada sponsor yang datang ke panti dan menawarkan diri menjadi orang tua asuh. Orang itu kebetulan tinggal di Jakarta dan pastinya anak yang bersedia akan diajak tinggal di Jakarta juga. Yups, dan teman sekamar saya yang akhirnya mendapat kesempatan itu.

Saya cuma bisa mewek di pojokan. Huhuhuhu, kalau seandainya saya tidak ke Denpasar pastinya saya juga akan diajak ke Jakarta. Yo weslah, mungkin belum waktunya, pikir saya waktu itu. Belum tentu juga orang yang menawarkan diri menjadi orang tua asuh bener – bener baik. Siapa tahu dia termasuk salah satu sindikat penculikan kayak di berita – berita atau cerita detektip itu kan ? #mengkhayalmodeon. Saya mencoba bersabar dan tetap yakin akan rencana Tuhan yang pastinya indah untuk hidup saya (#aseeeek, sok bijak sekali – sekali).

Kesempatan kedua untuk ke Jakarta juga saya lewatkan. Jadi waktu itu saya masih SMP dan tinggal bersama kakek di Yogya dan bersekolah di sana (udah kayak manusia purba aja ye hidup berpindah – pindah ?). Setiap liburan akhir semester saya menyempatkan diri untuk pulang ke Denpasar dengan naik bus sendiri. Nah, suatu waktu ketika liburan akhir semester saya ditawari dua pilihan oleh om saya......

“Kamu mau liburan ke rumah om di Jakarta atau pulang ke Denpasar ?” tanya om saya.

Sumpah yeee, ini pilihan paling rumit dalam hidup saya. Jakarta adalah cinta pertama sekaligus mimpi saya. Tapi,, saya juga kangen banget sama orang tua (maklum masih bocah, masih imut – imutnya), akhirnya dengan berat hati saya memutuskan untuk pulang ke Denpasar saja. Huhuhu, hilang sudah kesempatan itu. Bye Bye, cintaaaaaaaa....

Saya pun bertekad akan mengunjungi kota Jakarta. Saya mulai menabung sedikit demi sedikit dan terus berdoa membisikkan impian saya ini kepada Tuhan. Pokoknya saya harus bertemu doi. Haruuuuus. Saya selalu percaya di dunia ini tidak hal yang mustahil. Wong manusia aja bisa pergi ke bulan masak saya ga bisa cuma ke Jakarta doang ?

Yaps, dan Tuhan itu ga pernah tidur. Waktunya kita berbeda dengan waktunya Tuhan. Ketika Tuhan berkata “sudah waktunya” gada satupun yang bisa menghalangi. Akhirnya ketika saya SMA semua itu tercapai. Saya berhasil melihat kota Jakarta, cinta pertama saya dengan mata kepala sendiri saat study tour dengan uang hasil tabungan saya dan bantuan dari kakak saya.

Aiiih, betapa terharunya saya saat itu. Akhirnya cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Saya bisa melihat gedung – gedung pencakar langit itu berdiri megah di depan mata. Luaaaar binasaaaaaa. Sejak itu saya pun diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengunjungi kota ini berkali –kali. Dan walaupun saya sering bolak balik belek ke Jakarta, saya tetap cinta dengan kota ini, apapun itu kekurangannya (namanya juga udah cinta kan ye?). Jadi, bagaimana dengan cinta pertama kalian ? Sudahkah kalian menemuinya ? Wekekekkek.

Monday, January 28, 2019

Cara Murah Mengeksplor Melaka

Auouoououououuou, Hah ? pergi ke Malaysia lagi ? Mau ngapain ? Masak ke Kuala Lumpur aja terus? Bosen ah. Terus ke mana dong ? Jangan khawatir, ga perlu elus – elus dada sendiri terus (apalagi dada orang lain). Malaysia tidak cuma Kuala Lumpur saja. Jika bosan dengan suasana di KL (sekarang saya singkat aja ye biar ga nulis panjang, lebar, dan tinggi) yang crowded dan tidak beda jauh dengan kota metropolitan pada umumnya, mampirlah ke Melaka, salah satu daerah di Malaysia yang menjadi warisan budaya UNESCO (bersama dengan Penang).

Bagaimana cara menuju Melaka dari KL ? Ada banyak bus yang melayani rute ke Melaka dengan jadwal yang bervariasi dari pagi sampai malam. Teman – teman bisa naik dari Terminal Bersepadu Selatan, tiketnya bisa dibeli on the spot dengan harga sekitar 10 – 15 RM. Saya sendiri naik bus dari KLIA 2 dengan harga 24,3 RM yang saya bayar dengan 25 RM (dan tidak dikasi kembalian pemirsa, huhuhu).

Lama perjalanan dari KL ke Melaka sekitar dua sampai tiga jam tergantung macet atau tidaknya jalan (kadang faktor muka juga mempengaruhi). Bus akan berhenti di Melaka Sentral. Terus setelah sampai di Melaka Sentral kita ngapain ? Gimana caranya eksplor Melaka dengan murah meriah ? Wait, sabar sabar. Setelah sampai di Melaka Sentral ikutilah petunjuk yang mengarah ke tempat bus dalam kota. Carilah platform 17 dan naiklah Bus Panorama yang bernomor 17.

Harga tiketnya pun murah karena cuma dua ringgit (dibandingkan naik taksi ye kan ?). Bilang saja kita mau berhenti di bangunan merah pasti supirnya tahu. Kenapa bangunan merah ? Karena hampir semua tempat wisata di Melaka itu berdekatan dan plek ketuplek jadi satu dalam sebuah kawasan. Jadi bangunan merah ini merupakan titik awalnya. Rata – rata orang yang naik bus ini dari Melaka Sentral pasti turunnya ke sini. Jadi ga usah takut nyasar ye ?

Saking berdekatannya antara obyek wisata yang satu dengan yang lain kita jadi bisa mengeksplor Melaka dengan berjalan kaki. Pokoknya setiap kita melangkah pasti akan ketemu tempat – tempat yang seru dan menarik. Nah terus kalau mau balik ke Melaka Sentral lagi gimana ? Gampang, tinggal tunggu aja di sekitaran bangunan merah lagi karena bus ini rutenya memutar dan kembali ke Melaka Sentral. Harganya pun sama dua ringgit.

Waktu saya naik Bus Panorama saat mau kembali ke Melaka Sentral saya langsung tertidur karena waktu itu benar – benar nguantuuuuk banget karena malam sebelumnya saya tidak bisa tidur. Ketika saya terbangun dalam keadaan setengah sadar dan setengah ileran saya kaget...... Wadaaaaaaw, busnya penuh euyyy dan banyak yang berdiri. Saya yang merasa kasihan memberikan tempat duduk saya kepada salah satu anak kecil sedangkan saya yang berdiri.

Ketika sedang berdiri dalam keadaan sempoyongan karena setengah nyawa saya masih di alam mimpi saya melihat ke sekeliling dengan mata berkelap kelip. Ya ampun, saya melihat di depan saya ada ibu setengah baya yang harus berdiri berdesakan dengan penumpang lain sementara di sampingnya ada dua anak muda seumuran saya (cowok semua) yang duduk manjah dan saling mengobrol dengan serunya seolah si ibu ini tidak ada

Saya sekilas mendengarkan percakapan mereka sambil merem melek, Owalah, rupanya mereka orang Indonesia karena mereka berbicara dengan bahasa jawa. Langsung deh tanpa babibu saya colek pundak salah satu dari mereka .............

Parjito : “Heyyyy, what are you endebra endebre enjebret ?” (menoleh ke saya)

Saya : “Wes, rasah ngomong enggres – enggresan. Aku yo wong jowo podo karo sampeyan.”

Parjito : “Oh, ada apa ya ?” (dengan tampang sinis)

Saya : “Kalian kan masih muda, masih kuat. Mbok ya ngalah to sama yang lebih tua . Kasi kek si ibu ini duduk. Kasian lo doi udah sepuh gini harus berdiri desak – desakan di bus.”

Waluyo : “Lahh, kan kami yang duduk duluan di sini. Ya suka – suka kita lah.”

Saya : “Betul. Tapi setidaknya kalian punya hati nurani sedikit lah. Kalian itu cowok lo, umur juga masih muda, masih kuat berdiri lama, apalagi kita ini ada di negeri orang, mbok ya jaga nama baik negara kita, bla bla bla bla jebreeet jebreeet....

Kami pun menjadi tontonan di bus. Akhirnya setelah berdebat panjang dan berceramah ala Mama Dedeh mereka mengalah juga dan memberikan tempat duduk kepada si ibu ini dan juga salah satu wanita yang tidak mendapat tempat duduk. Duuuh, kadang suka geram sama penumpang macem begini. Masak ga punya rasa kasihan sama sekali sih sama orang tua ?

Buspun terus berjalan entah berapa lama karena saya tidak melihat jam (yang jelas lama banget karena macet juga). Sampai di Melaka Sentral ada banyak loket – loket bus dengan jurusan Kuala Lumpur. Ga usah takut kehabisan deh karena saya waktu itu juga perginya di akhir tahun dan kalo salah satu loket ada yang sudah habis tiketnya tinggal pindah ke lain hati eh loket yang lain maksudnya. Saya naik bus Mayang Sari dengan harga tiket 12 RM dan turun di TBS, Kuala Lumpur. Eniwei, bagi saya pribadi, Melaka sangat menarik untuk dikunjungi.

Menjadi Guide Abal - Abal

Nyasar adalah salah satu “ritual wajib” saya saat travelling. Entah kenapa setiap pergi ke manapun pasti saya selalu mengalami hal ini. Gak perlu jauh – jauh deh, bahkan ketika saya pergi ke tempat kerja saja saya sering banget nyasar (padahal udah bolak balik belek lebih dari setahun). Saya selalu merasa seperti ada di tempat yang baru dan harus berpuluh – puluh kali melewati jalan yang sama baru bisa ingat (rempong ye cin ?)

Berdasarkan informasi yang saya ubek – ubek sampe mampus sih katanya saya ini pengidap disleksia, patrisia, sia – sia ato apalah ye itu namanya. Dan ternyata kelainan yang saya alami ini juga dialami oleh orang lain (dulu saya pikir cuma saya saja yang aneh begini, wkwkwkk).

Anehnya, meskipun saya ini penderita disleksia , sering banget nyasar, suka kesulitan membaca peta, dan ga tau arah, saya sama sekali tidak pernah merasa kapok untuk travelling. Bahkan saya hampir selalu travelling sendirian baik itu ke dalam ataupun luar negeri (dan kalau ke luar negeri saya tidak pernah pakai paket internet alias menjadi fakir wifi, huhuhu).

Oh ya, satu lagi, jangan terlalu percaya sama google map karena saya pernah nyasar waktu mau mencari lokasi penginapan saat di Gili Trawangan, Lombok sampe dibawa muter – muter ke sawah bahkan nyasar ke bukit segala (duuuh, apa sayanya yang salah baca petanya kali ya ?)

Eittts, tapiii yee, walaupun saya aneh begini teman – teman selalu percaya sama saya. Bahkan saya selalu dipercaya menjadi ketua kelompok, guide dan juga penunjuk jalan setiap saya pergi dengan mereka (padahal saya sama sekali ga tahu jalan lo, mueheeehehehe). Gapapa deh ye jadi guide walaupun abal – abal.

Salah satu pengalaman absurd menjadi guide yang saya alami adalah waktu saya dan teman – teman pergi ke Bandung. Setelah jalan – jalan manjah dari Tangkuban Perahu kami balik ke hotel. Malamnya teman saya sangat haus dan ingin membeli minuman. Bicaralah teman saya ini............

Waluyo : “Eh, Tom, gua haus ini.”

Ngadimin : “Iya, gua juga.”

Saya : “Lah terus ?”

Jarminto : “Ya anterin lah, lu kan sering banget traveling. Pasti tahu lah di mana minimarket yang terdekat dari sini.”

Ting tong. Aneh banget kan teman – teman saya ini ? Emang dipikir karena saya sering travelling saya jadi serba tahu semuanya ? Wong saya yang udah bertahun – tahun tinggal di Bali dan sering ke Pantai Kuta aja ga pernah tahu jalan ke sana kalau harus pergi tanpa lihat petunjuk jalan, lihat map, atau tanya – tanya sama orang. Lah ini Bandung cuyyy. Baru saja saya mau menyanggah eh tangan saya udah ditarik – tarik dan dipaksa nunjukkin jalan.

Yaps, di tengah jalan, bingunglah saya. Walaupun saya sudah berkali – kali mengatakan kalau saya tidak tahu jalan, mereka tetap memaksa saya...

Ngadimin : “Ga usah ngeles pura – pura ga tau deh. Habis ini lewat mana Tom ?”

Saya : “Ke kanan deh.” (asal menjawab)

Eh ternyata setelah kami belok kanan dan jalan sedikit beneran ketemu minimarket. Teman – teman langsung memuji saya “hebat, keren, fantastis, petualang sejati, apa – apalah gitu deh sampai saya ngakak sendiri”. Padahal saya mah cuma jawab ngasal aja. Logika aja sih, hari gini mah minimarket ada di mana – mana kali udah kayak kacak goreng, hehe. Seandainya kami saat itu belok kiri pun pasti bakal ketemu juga.

Pengalaman yang paling tidak bisa dilupakan adalah waktu saya pergi Study Tour ke Yogyakarta dengan teman – teman SMA. Malamnnya acara bebas dan teman – teman saya pada pergi ke Malioboro dengan naik dokar. Saya memutuskan untuk tidak ikut karena mau jalan kaki dan ingin pergi sendiri (sebenarnya sih karena ga ada duit, husss, jangan bilang – bilang ye ?). Baru jalan sekian senti tiba – tiba salah satu dari teman saya (sebut saja Paimin), memanggil saya.....

Paimin : “Tom, mau ke mana ?”

Saya : “Ke rumah teman (menjawab asal).

Paimin : “Oh ya, kamu kan dulu SMP nya di Yogya ya ? Ikut dong.”

Saya : “Jauh rumah temanku, lagian aku jalan kaki lo.”

Paimin : “Gapapa, pokoknya aku ikut.”

Mampus deh, padahal saya ga ada niat pergi ke rumah teman ataupun ke mana – mana. Saya cuma mau jalan – jalan tanpa arah saja. Tapi melihat teman saya yang sepertinya ngebet banget jalan bareng sama saya yang disangka sudah “expert” tentang Yogya ini akhirnya saya mengalah. Setelah berjalan kurang lebih satu jam tak tentu arah.....

Paimin : “Kapan sampainya nih ? Rumah temanmu masih jauh ya ?”

Saya : “Iya masih jauh. Ga usah aja deh ke sana. Lagian aku belum ada janjian sama dia. Takutnya dia ga ada di rumah. Balik aja yuk ke vila ? Jugaan ini kita udah jalan – jalan kan ?”

Paimin : “Yahhh, kirain rumahnya deket. Aku ga mau balik. Kita ke Malioboro yuk kalo gitu.”

Saya : “Ya udah kamu sendiri aja. Aku capek, mau tidur,”

Paimin : “Ehh, jangan gitu dong. Aku kan ga tahu jalan. Hapeku juga ga ada mapnya. Kamu kan udah pernah tinggal lama di Yogya pasti tahu lah jalan ke sana.”

Lutut saya langsung lemas. Cobaan apa lagi ini ? Duuuuh, kalo saya bilang ga tahu jalan sudah pasti dia ga akan percaya. Masak udah bertahun – tahun tinggal di Yogya tapi ga tahu arah ke Malioboro ? Sedangkan Handphone saya waktu itu adalah Sm*rt. Tahu kan yee ? HP jadul yang harganya cuma seratus rebuan yang cuma bisa dipake nelpon sama sms – an doang itu. Yang gambar layarnya kayak sarang tawon itu. Jangan mimpi deh bisa lihat google maps wong buat sekedar dengerin musik aja ga bisa.

Akhirnya saya mengalah dan terus berjalan ngasal belok kanan, belok kiri, mendaki gunung, melewati lembah (udah kayak judul lagu ye ?). Setelah hampir satu jam berjalan kaki sampailah kami di sebuah perempatan. Saya suruh si Paimin menunggu sebentar karena saya bilangnya mau beli jajan dulu di warung. Ngacirlah saya ke sebuah warung dan bertanya ke penjualnya tanpa didengar si Paimin karena saya suruh dia menunggu agak jauh dari warung itu.......

Saya : “Permisi bu, mau tanya, Jalan Malioboro itu di mana nggih ?”

Penjual : “Lah, jalan yang ada di depan perempatan itu kan Jalan Malioboro.”

Saya : “Ohh, berarti ini sudah masuk kawasan Malioboro ya ?”

Penjual : Hehe, La iyo to le...” (tertawa terkekeh – kekeh)

Wadaaaw, bisa kebetulan gitu ye ? Saya langsung mengucapkan terima kasih dan pamit. Saya menghampiri Paimin yang sepertinya udah capek banget karena diajak jalan – jalan ga jelas sama saya...

Paimin : “Lama amat sih. Bedewei, masih jauh ga sih Malioboro dari sini ?”

Saya : “Eng ing eng. Welcome to Malioboro.” (menunjuk jalan yang ada di depan dengan wajah tanpa dosa)

Paimin : “Waooow, kereeeen. Bilang kek dari tadi kalo kita udah sampai.” (tanpa rasa curiga sama sekali)

Yaps, dan berkelilinglah kami di sana tanpa membeli apa – apa. Eh lagi asyik berkelana kami juga bertemu teman - teman yang lain. Dan lagi – lagi saya jadi guide deh ditanya ini itu sama mereka. Cape deeeeh. Untung saya masih bisa jawab.

Masih banyak lagi pengalaman – pengalaman absurd saya menjadi guide abal – abal yang kadang bikin saya ngekek sendiri. Duuuh, kok bisa gitu ada orang aneh kayak saya ? Kalo disuruh milih mah saya lebih baik ngapalin rumus matematika deh dibanding harus mengingat jalan. Rumiiiiiiiiiiit..........

Note : Foto diambil waktu saya dan teman – teman pergi ke Tangkuban Perahu. Jangan suruh saya tunjukkin jalan ke sana ya kalo ga mau dibawa muter – muter ga jelas ?

Friday, December 21, 2018

Wanita Tangguh Pejuang Mimpi

Beberapa bulan yang lalu.....

“Kamu lagi di mana ? Di Indonesia kah ?” tanya wanita itu dalam sebuah chat di facebook.

“Iya, kenapa ?” tanya saya balik.

“Liburan ini mau ke mana ?” tanyanya lagi.

“Ga tahu, Myanmar mungkin,” jawab saya asal.

“Woooow, kalo kamu ke sana, aku ikutan dong,” balas wanita itu.

GLEEEK. Entah mimpi apa saya wanita ini mengajak saya ngebolang bareng....

********

Wanita.... Aihhh, membicarakan topik ini memang tidak akan pernah ada habisnya. Wanita adalah sosok yang luar biasa. Tanpa mereka tentu kita semua tidak akan pernah terlahir ke dunia bukan ? Dan saat ini kita sedang memperingati hari ibu, hari untuk mengapreasi wanita – wanita tangguh yang telah berjuang untuk mengandung, melahirkan, dan membesarkan anaknya. Bahkan tidak sedikit yang hampir atau telah kehilangan nyawanya demi sang buah hati.

Kali ini saya akan bercerita tentang kakak saya, sosok wanita tangguh yang telah memberikan banyak inspirasi untuk saya. Sejak kecil doi suka sekali membaca buku cerita tentang petualangan karya Enid Blyton seperti Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, dan lain – lain. Buku – buku itu dipinjam dari temannya dan dibawa pulang ke rumah.

Namanya juga sama – sama suka membaca, sayanya ikutan pinjam dong. Eh ternyata ceritanya seru dan saya ketagihan membaca. Kami berasa dibawa ke dimensi yang berbeda. Lalu sampailah kami di suatu frekuensi mimpi yang sama. Kami mau mengalami itu, kami mau merasakan indahnya petualangan, menjelajahi dunia.

Karakter kami sangatlah berbeda. Saya tipe orang yang sangat hemat. Walaupun uang jajan saya sehari waktu SD dulu hanya 1500 (sedangkan teman - teman saja yang lain saja minimal 20 ribu), saya tidak pernah belanja sama sekali. Uangnya selalu saya tabung dan biasanya saya pakai untuk membeli buku komik atau buku cerita kesukaan saya.

Sedangkan kakak saya ? Jangan ditanya deh. Borosnya gak ketulungan. Uang jajannya yang 2000 setiap harinya itu pasti selalu habis, bahkan kurang. Kalo udah kurang larinya ke siapa ? Ya pasti ke saya. Biasanya dia akan memohon – mohon gitu deh supaya saya mau pinjemin dia duit (walaupun pada akhirnya juga ga dikembaliin sih, hehe).

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya, kami harus dititipkan di panti asuhan karena orang tua kami sudah tidak sanggup lagi menanggung biaya sekolah dan hidup kami. Saya yang waktu itu masih SD dititipkan ke sebuah panti asuhan di Negara, sekitar 120 an km dari tempat tinggal orang tua kami di Denpasar. Kemudian kakak saya yang beranjak kelas 3 SMP dimasukkan ke Panti Asuhan di Dalung, berjarak 12 km dari Denpasar.

Berbeda dengan saya yang hidup secara nomaden seperti manusia purba yang berpindah – pindah dari Negara kemudian ke Yogya saat SMP dan kembali ke Denpasar saat SMA dan kuliah, kakak saya terus tinggal di panti asuhan sampai dia kuliah. Kami sama – sama melalui proses hidup yang cukup berat. Tapi, proses itu menjadikan kami pribadi yang matang.

Perubahan pun terjadi. Sang Upik Abu pun berubah menjadi Cinderbolong eh Cinderella. Kakak saya berhasil menjadi orang pertama di keluarga inti kami yang pertama kali naik pesawat dan mengunjungi kota Jakarta (yang merupakan kota impian saya juga) saat dia study tour waktu SMK. Itu pake uang siapa ? Uangnya sendiri lah, karena dia bekerja di restoran sambil sekolah.

Saya pun termotivasi dan menyusulnya beberapa tahun kemudian saat SMA juga. Akhirnya saya bisa naik pesawat dan melihat kota Jakarta dengan mata kepala sendiri. Rasanya sangat terharu dan bahagia. Siapa yang membantu biayanya ? Tentunya si wanita tangguh tadi.

Lalu satu persatu mimpinya menjadi nyata. Beberapa tahun lalu doi lulus kuliah dan lagi – lagi dia orang pertama di keluarga yang meraih gelar sarjana. Termotivasi ? Pastinya, dan puji Tuhan Bulan September kemarin pun saya berhasil menyusulnya dan meraih gelar juga. Sungguh, nikmat Tuhan memang selalu ada dalam setiap proses kehidupan.

Gebrakan yang besar terjadi di tahun lalu ketika kakak saya berhasil menginjakkan kakinya ke Bangkok. Ya, wanita ini sekali lagi membuktikan tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, semua pasti akan ada masanya. Lagi – lagi dia menjadi orang pertama di keluarga berhasil yang menginjakkan kaki ke luar negeri. Dia saja yang boros bisa, masak saya yang suka menabung gini ga mampu ? Dan keajaiban terjadi, beberapa bulan kemudian saya pun bisa ke luar negeri berbekal doa, tekad dan usaha.

Sejak itu kami jadi sering traveling dengan jalan kami masing - masing. Foto kami di sosial media pasti hampir selalu bertema traveling. Hingga beberapa bulan yang lalu kakak saya mengajak traveling bareng. Whaaaat ? Sayanya langsung kaget. Saya langsung berimajinasi yang aneh – aneh dan liar...

Kami tipe petualang yang berbeda. Kakak saya tipe traveler yang “high class”. Traveling bawa koper gede, tidurnya di hotel berbintang, suka banget belanja barang bermerk, makan di restoran mewah. Waktu liburan ke Bangkok saja dalam seminggu habis hampir 10 jeti, terus ke Singapura dua harian habis sekitar 8 jeti.

Berbeda dengan saya. Traveling selalu bawa satu backpack ala Dora The Explorer (sambil nyanyi aku peta, aku peta), tidur di hostel rame – rame, kadang tidur di bandara, sering jalan kaki, makan ya paling di pinggir jalan, ga suka belanja. Tiga hari di Bangkok aja ngabisin duit ga sampai satu jeti, dua hari di Singapura 500 ribu bisa survive. Maklum lah, gaji saya aja sepertiga gajinya dia. Beda pemasukan ya beda gaya hidup lah, hehe.

Tapi bagaimana kalau dua traveler yang berbeda ini bersatu ? Pastinya bakal menantang banget dan bakal banyak kejadian – kejadian yang seru. Baru saja saya membayangkan imajinasi liar ini ternyata saya baru sadar, tanggal kami tidak cocok dan berbenturan. Ya sudahlah, berarti belum jodoh. Semoga suatu saat nanti saya dan wanita tangguh ini bisa ngebolang bareng dan menghasilkan cerita yang seru dan pastinya akan saya share di sini juga.

Note : Salah satu mimpi terbesar kami adalah pergi ke yu - es, negara tempat Tante Liberty tinggal. Tapi, fakta yang mengejutkan adalah doi punya pacar orang asli sono. Dan yang bikin saya ngiler adalah pacar kakak saya rencananya bakal membiayai doi ke yu-es dan bakal bantu pengurusan visanya yang super duper ribet itu. Alamaaaaaaak, enaknyaaaaaa. Lalu apakah kakak saya juga yang akan menjadi orang pertama di keluarga kami yang menginjakkan kaki ke yu – es ? Huhuhuhu. Atau jangan – jangan saya yang akan lebih dulu ke sana ? (amiiiiiin). Yah, ga ada masalah sih siapa yang bakal ke sana duluan. Yang jelas saya sangat kagum dengan kakak saya ini, wanita tangguh yang sangat luar biasa dan selalu menjadi inspirasi.

Sunday, December 16, 2018

Ketika Mimpi Menjadi Nyata

Nguuuung nguuuuung nguuuung, ckiiiiiit........... Sebuah pesawat melaju tepat di atas kepala seorang anak kecil, mendesingkan bunyinya yang gagah melintasi cakrawala. Anak kecil itu mendongak ke atas , memandang burung besi itu dengan penuh antusias. Tangannya mulai dilipat, iapun menutup mata, sambil membisikkan kata.....

“Ya Tuhan, aku ingin sekali bisa naik pesawat. Aku ingin bisa mengelilingi dunia. Ga apa – apa deh walaupun cuma naik pesawat – pesawatan dari kertas, yang penting bisa keliling dunia, amiiiiiin............”

*****************

Sejak kecil saya punya mimpi untuk bisa berkeliling dunia. Saya suka sekali membaca dan belajar sesuatu tentang negara – negara di dunia mulai dari ibukotanya, budayanya, tempat wisatanya, iklimnya, pokoknya semuanya deh. Rasanya seolah – olah saya tersihir dan merasakan seperti ada di negara tersebut.

Tapiiii.... Dulu saya tidak pernah menanggapi mimpi itu serius. Saya terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Wong makan aja masih susah, seringnya makan nasi sama garam tok kok malah ngarep bisa jalan - jalan ke luar negeri ??? Helllouw, udah sana cuci piring, Warjito, jangan kebanyakan ngelamun ye” kata emak saya sambil bawa pentungan segede gambreng.

Kondisi keuangan keluarga saya yang makin memburuk, SPP yang tidak kunjung dibayar selama tiga tahun (buseeet, itu SPP apa cicilan motor yeee ?) membuat saya dan kakak saya harus pindah sekolah dan dititipkan ke panti asuhan (saya waktu itu masih SD, masih imut - imutnya dan kakak saya masih SMP).

Tapiiii, kami dimasukkan ke dua tempat yang berbeda. Kakak saya dimasukkan ke panti asuhan yang berjarak hanya 11 km dari tempat tinggal orang tua kami, sedangkan saya, harus berpisah dengan orang tua saya sejauh 120 - an km. Alasannya sih karna kakak saya cewek dan pantinya kebetulan udah penuh bertepatan dengan masuknya kakak saya (huhuhu, yo weslah, terima nasib yeee)

Sedih pastinya karena harus berpisah dari orang tua, tapi di sana saya mulai belajar mandiri. Saya belajar banyak hal mulai dari menyapu, mengepel, membersihkan kandang sapi, mencari rumput, bangun pagi, dan banyak hal lain. Dan setiap libur sekolah saya berani pulang sendiri ke rumah orang tua saya naik bus dan kalau mentok gada duit biasanya saya numpang naik truk yang mau ke denpasar dengan modal muka memelas dan sok SKSD gitu (dan metode ini selalu berhasil, huahahaaha).

Ketika masuk SMP saya pindah ke Yogya dan tinggal bersama kakek saya. Di sini saya semakin digembleng lagi. Semakin jauh dari orang tua dan saya jadi makin mandiri. Saat libur sekolah pun saya selalu pulang naik bus sendiri ke Denpasar dan tentunya selalu mengalami pengalaman yang seru dan unik mulai dari dikejar preman, terkunci di toilet bus yang rusak, supir bus yang ga tau jalan, kenalan sama cewek cantik dan lain – lain.

Skip skip skip saya melanjutkan SMA dan kuliah di Bali. Saya kos sendiri dan mencari uang untuk kuliah, kos, makan, dan semuanya dengan hasil keringat sendiri. Dengan begitu banyaknya pengeluaran dan hambatan dalam hidup makin membuat saya pesimis, apa saya bisa ke luar negeri ? Awalnya saya ragu dan mulai melupakan mimpi itu. Tapi tiba – tiba saya dikejutkan dengan sebuah kabar, kakak saya akan pergi ke luar negeri untuk pertama kalinya bersama dengan teman – temannya.

Wauuuuuw, entah kenapa saya tiba – tiba jadi bersemangat. Kakak saya saja bisa masak saya nggak bisa sih ? Dan semangat itu yang memotivasi saya untuk mmulai giat menabung. Yap, dan akhirnya Tuhan pun berkata “Waktumu telah tiba”, ajaaaiiiib, rejeki mulai berdatangan dari Tuhan dan saya bisa menabung uang yang cukup. Mimpi saya pun bisa menjadi nyata. Saya berhasil menginjakkan kaki di Malaysia dan juga Singapura tepat setahun yang lalu. Ga ada satupun yang bisa menghalangi kalau memang “sudah waktunya”.

Ternyata memang pengalaman adalah guru yang terbaik. Tuhan sudah mempersiapkan saya dari kecil agar saya bisa lebih siap saat ini. Seandainya saya tidak tinggal di panti asuhan dan tinggal di rumah kakek saya di Yogya belum tentu saya berani solo traveling sekarang, belum tentu saya jadi pribadi yang lebih sabar, belum tentu saya bisa memanage pengeluaran dengan baik, belum tentu saya bisa kuat jalan belasan kilometer tanpa istirahat, dan banyak lagi hal yang tidak mungkin bisa saya lakukan kalau saya tidak melalui semua proses ini. Aiiih, saya sangat bersyukur bisa melalui proses hidup yang berharga ini.

Postingan saya ini tidak bermaksud menggurui tapi hanya ingin berbagi pengalaman dan juga memberikan motivasi terutama bagi yang punya mimpi sama seperti saya tapi belum “diberikan kesempatan itu”. Percaya deh, ga ada yang mustahil di dunia ini. Saya berhasil membuktikannya. Tetap berdoa dan berusaha, hadapi semua proses hidup yang ada, nanti pasti akan ada waktunya. Salam Travelling, auouououououuouououo.................

Saturday, October 13, 2018

Belajar Bahasa Tarzan di Bangkok

Bangkok.......... Ah, berbicara tentang kota ini memang gada habisnya. Bangkok adalah salah satu kota yang selalu membuat saya tertarik untuk datang dan datang lagi (kayak ada magnetnya gitu deh, hehe). Bangkok memiliki moda transportasi yang sangat bervariasi mulai dari BTS, MRT, Kereta Api Konvensional, Tuk – Tuk, Chao Praya Express Boat, Bus, taksi, ojek dan lain – lain (kalo odong – odong ada gak ? Hmmm, entahlah). Kali ini saya mau bahas mengenai pengalaman saya waktu naik bus di Bangkok.

Jadi waktu itu saya habis ngiter – ngiter ga jelas di Asiatique The Riverfront (sumpah saya ga beli apa – apa, cuma bisa ngiler liat makanan enak – enak di sini, maklum dompet sudah sekarat, huhuhu). Berencanalah saya pergi ke hostel saya yang ada di kawasan Khaosan Road. Eiiiit, tunggguuuu. Saya mau naik apa ke sana ? Berdasarkan info yang saya baca, tidak ada BTS atau MRT yang melewati daerah Khaosan. Naik Chao Praya Boat ? Ga tau harus nunggu di mana. Taksi ?? Ahhh, lupakan ide gila itu. Emangnya nanti malam saya mau cuma makan batu dikecapin gara – gara kehabisan duit ?

Satu – satunya jalan adalah mengikuti saran dari blog yang pernah saya baca. Naik bus. Wadaaaw, terus ini di mana haltenya coba ? Berdasarkan info yang saya baca, ada bus yang melalui rute dari Asiatique ke Khaosan dengan harga yang sangat murah. Saya tanya semua orang mulai dari penjual bunga, anak sekolahan, sampai wanita penjaga toko pakaian yang seksi dan menggairahkan itu (entah dia beneran wanita atau bukan) tapi semuanya selalu menggeleng karena gada yang bisa bahasa inggris.

Oke akhirnya saya pake feeling aja. Jalan lurus terus, berharap ada halte. Ehhh, akhirnya nemu juga. Beberapa menit kemudian datanglah bus nomor 15 yang saya tunggu – tunggu. Naiklah saya.......

Kenek : “Cang men dai, kap kap kap, ciaat ciaaat u u a ak”......

Wadaaaaw, entah kenapa saya selalu dikira orang lokal sana dan selalu diajak ngomong bahasa Thai. Padahal muka saya gada Thailand – Thailandnya sama sekali, malah muka saya lebih cenderung mirip artis holiwud (halah). Akhirnya saya jawab dengan bahasa inggris.....

Saya : “Aduh, maaf, saya bukan orang Thailand. Apakah bus ini melewati Khaosan Road ?”

Ting tong. Doi bengong untuk waktu yang cukup lama. Entah doi masih ga percaya kalo saya ini bukan orang asli Thailand atau doi memang ga ngerti saya ngomong apa.

Saya : “Halo ?”

Kenek : “Ahhhh, yes yes yes (mengangguk dengan tampang tidak meyakinkan).”

Saya : “Berapa ?”

Kenek : “7 Baht.”

Weeeew, serius lu ? Murah amat yeee, kagak nyampe empat ribu rupiah. Akhirnya bus pun berjalan. Saya melirik penumpang – penumpang yang lain, waduuuh, kok isinya orang lokal semua. Saya pikir akan ada banyak bule yang naik bus ini dan punya tujuan yang sama kayak saya karna Khaosan Road memang kawasan untuk turis. Terus nanti gimana caranya saya tahu kalo saya sudah sampe ? HP saya juga masih dicas dan tidak bisa dipake kalo belum full.

Dan sampe satu jam lebih, ga ada tanda – tanda apapun dari si kenek. Mana jalanan macet pulak. Ini doi beneran ngerti omongan saya kagak sih ? Saya tanya lagi ke doi.....

Saya : “Maaf, saya mau tanya lagi. Masih seberapa jauh dari sini ke Khaosan Road ?”

Kenek : “Kap kap kap..... (menggeleng ga jelas), sawadikap trung pai trung tung tung tung tung aselole.” (sambil memperagakan dan menggunakan bahasa tubuh yang ga jelas banget)

Astaga, apa itu artinya ? Jangan – jangan doi emang bener – bener ga ngerti maksud saya. Terus saya bakal diturunin di mana ini ? Duuuh, saya cuma bisa pasrah sambil melihat jalanan. Sudah malam pulak ini. Hffffft, akhirnya beberapa lama kemudian bus berhenti di suatu jalanan dan saya disuruh turun oleh kenek dengan menggunakan bahasa isyaratnya.

Kenek : “Emmm (menunjuk saya untuk beberapa lama), emmmm (menunjuk jalanan di luar).”

Saya : “Emmm emmm emmm emmm.” (sambil ngangguk - ngangguk karna bingung harus pakai bahasa apa lagi)

Awalnya saya bingung diturunkan di mana karena saya diturunkan di jalan sepi yang sama sekali gada rame – ramenya (bukannya Khaosan Road itu kawasan turis ?). Tapi setelah saya mengecek map offline ternyata saya berada di Ratchadamnoen Road, ga terlalu jauh dari Khaosan Road, hanya perlu jalan kaki 5 – 10 menit. Hffft, dan akhirnya sampe juga di hostel.

Note : Jadi bagi yang mau ke Bangkok bisa mencoba naik bus untuk berkeliling kota. Kalo beruntung bisa kayak saya, ketemu sama kenek yang ga bisa bahasa inggris, jadi bisa menambah skill bahasa tarzan, bahasa planet dan bahasa kalbu (lumayan kan bisa belajar tiga bahasa, hahaha). Harganya juga murah meriah dan lumayan untuk menghemat budget. Tinggal sesuaikan aja tujuan kita dengan nomor bus yang ada. Selamat mencoba !